| Karya Siswa |
|
|
|
| Monday, 11 January 2010 03:26 |
|
Pengalaman Ani Karya : Dania Salma Kelas : 5 Al Khawarismi
Pada malam hari, jam 23.00 terdengar suara Kak Ani. ”Aaa..”. Kenapa Ani?” tanya ibu.” Liontin pemberian nenek hilang,” jawabnya sambil terisak-isak.” Memangnya kamu simpan di mana?” kata ibu dengan nada agak sedikit keras. ”Tadi Ani letakkan di meja belajar. Lalu Ani tinggal ke dapur untuk membuat teh. Waktu Ani kembali, liontinnya sudah hilang.” Jelas Ani dengan nada suara yang kecil. ”Kalau begitu dicari besok saja ya!” kata ibu. Keesokan paginya Ani sangat terkejut ketika mengetahui liontinnya ada di ruangan pos satpam. Dia langsung memanggil ayahnya. ”Ayah liontin Ani sudah ketemu.” teriak Ani. ”Aduh... ada apa sih, An? Ayah kan sedang mencuci mobil,” kata ayah kesal. ”Ini, liontin Ani sudah ketemu.” kata Ani.” tapi ayahnya tidak mau mendengar cerita Ani. Pak satpam keluarga Ani adalah orang yang dituduh mencuri benda-benda milik warga. Semenjak kejadian itu pak satpam yang akrab di panggil Pak Trisno berjanji tidak mengulang perbuatan itu lagi. Tapi seminggu kemudian ada yang dituduh lagi namanya Pak Krisna. Pak Krisna adalah bekas penjahat. 26 Oktober ”Apa tak ada masalah lagi di keluarga ini?” keluh Ani. ” Ani kamu tidak boleh berkata begitu, karena sekarang ibu sedang menangis di kamar. Ibu menangis di kamar karena cincin pemberian ayah hilang entah di mana,” jelas ayah. ”Maafkan perkataan Ani tadi ya, Ayah?” kata Ani penuh rasa menyesal. ”O, iya jangan lupa bujuk ibu untuk mau keluar kamar ya?” kata ayah. ”Oke deh Yah, tapi kalau aku sudah dapat membujuk ibu aku dapat hadiah ya?” pinta Ani. ”Siap bos!” kata ayah sambil hormat. ”Ibu...ibu... keluar ya! Ani kesepian di luar. Kalau ibu tidak keluar nanti air matanya ibu habis lho..” kata Ani dengan nada memelas. ”Iya Ani, ibu akan segera ke luar. Tapi, Ani harus masuk ke kamar dahulu. Ibu dan ayah punya hadiah istimewa untukmu. ”Wah , indah sekali hadiahnya. Aku tak percaya mendapatkan hadiah yang kuidam-idamkan.” Bagi siapa yang ingin tahu apa hadiahnya, silakan buka kertas di baliknya. Hadih itu adalah sebuah alfalink, kamus elektronik. Bagi orang kaya hadiah itu adalah hadiah yang biasa, tapi bagi Ani kamus elektronik itu sangat berharga baginya. Ayah dan ibu membeli hadiah itu ketika Ani sedang sekolah. Ibu memberi hadiah itu karena Ani sudah rajin membantu ibu. ”Lho Bu, bagaimana dengan masalah cincin ibu yang hilang?” tanya Ani yang masih mencemaskan keadaan ibu. ”Cincin itu, ibu sudah menemukan penjahatnya kok, tenang saja,’ kata ibu. ”Siapa Bu, pelakunya? Biar Ani pukul saja Bu, supaya jera.” kata Ani ketus. ”Pelakunya adalah...Ayah,” kata ibu dengan senyum manisnya. ”Hah.. Ayah kok mencuri cicin ibu, berarti ayah pencuri dong?” kata Ani penuh curiga. ”Tidak, Ayah itu tidak mencuri cincin ibu. Ayah hanya menjual cincin itu, karena cincin itu sudah berkarat. Sebagai gantinya ayah belikan ibu cincin yang lebih bagus.” Kata ayah sambil menyodorkan cincin yang baru dibelikan ayah. Terima kasih ya, Yah kau adalah suami yang baik.” Kata ibu sembari memakai cincin yang baru. 30 Oktober ”Assalamu’alaikum, Ani.. ayo main yuk.. kita bermain di rumahku ya!” kata Rani salah satu sahabat Ani. ”Waalaikumussalam, iya Ran, tapi main apa? Aku masih sarapan nih!” Kata Ani di sela-sela mengunyah makan paginya. ”Oke, aku tunggu di rumah ya.” kata Rani sambil meninggalkan rumah bertingkat dua itu. Tak lama kemudian Ani datang sambil membawakan kotak obat. Ani memang disuruh ibunya untuk membawa kotak obat, tapi entah untuk apa. ”Rani, ada apa dengan kaki dan tanganmu itu?” Kata Ani. ”Oh, kakiku habis terkena gigitan ular, tapi tidak apa-apa kok. Kata dokter hanya perlu diberi obat merah dan revanol.” Di dalam hati Ani dia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Rani. ”O ... begitu ya, maksud ibu menyuruh aku membawa kotak obat ini? Memangnya kamu tidak punya obat?” tanya Ani penuh rasa kasihan. ”Iya aku tidak punya obat. Karena letak apoteknya cukup jauh, aku tidak punya mobil atau sepeda ,” kata Rani. ”Ya sudah, aku langsung beri obat ya!”
Seminggu kemudian Suara itu terdengar jelas di telinga Ani. ”Pengumuman Innalillahi wa innailaihi roji’un, telah meninggal putri dari Bapak Seto yang bernama Marsyila Arina Putri, yang meninggal pada jam 07.00 WIB. Ananda akan dimakamkan pada jam 13.00 sehabis sholat Dzuhur. Demikian pengumuman yang bisa saya sampaikan, wassalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuh.” Ani yang sedang mengetik laporannya langsung menangis. Di sela tangisannya dia langsung teringat bahwa dulu Rani pernah bercerita semasa di dalam kandungan, ibunya sering sakit-sakitan. Hal itu menyebabkan bayi yang ada dikandungannya terpengaruh. Sehingga ketika bayi itu lahir daya tahan tubuhnya pun juga akan berkurang. Itulah Rani, mungkin gigitan ular itu cukup berbahaya sehingga berpengaruh terhadap tubuhnya. Ketika jam 13.00 Ani juga ikut mengantar jenazah ke makamnya diikuti ayah, ibu, dan seluruh warga. Pada saat berdoa, Ani merasa sangat kehilangan seorang yang baik, ramah, sabar, dan selalu memberi jalan keluar baginya ketika ada masalah. Setelah kepergian Rani, Ani sangat kesepian. Ia kehilangan teman yang selalu mengajak bercanda dan membuatnya tersenyum. Kini semua sudah hilang. Ani akhirnya mengerti betapa penting artinya seorang sahabat bagi dirinya. LINGKUNGANKU Karya : Kirena Farah A. Kelas : 4 Andromeda
Lingkunganku, Kau, sungguh indah bagiku Kau yang mngindahkan segalanya Di muka bumi
Lingkunganku, engkau ada berbagai macam Kau adalah gunung, hutan, dan masih banyak yang lain Lingkunganku, bagiku kau sangat bermanfaat Engkau adalah sesuatu yang pantas untuk dijaga Tuk slama-lamanya
PAHLAWAN Karya : Rechardin A. Kelas : 6 Saturnus
Pahlawan Kau berperang demi rakyat Indonesia Kau tak takut dengan peluru Kau melindungi rakyat Indonesia tanpa pamrih Kau tak memikirkan harta Kau tak memikirkan anak-anakmu Yang masih kecil-kecil Pahlawan jika kau gugur Kau kan slalu tetap dikenang Olah rakyat Indonesia
Gugur Bunga Bangsa Karya : Maulida R. Kelas : 6 Uranus
Jutaan titik merah telah menyebar Berjatuhan korban satu demi satu Sambil berteriak Merdeka!! Tiada henti mereka bermimpi Demi Indonesia Mereka berkorban Tanpa keraguan Dan tak bimbang Satu demi satu mereka gugur Tak peduli akan hartanya Akan jiwanya Peduli hanya untuk Indonesia Ingatlah kau pada mereka Janganlah kau melupakannya 64 tahun telah merdeka Tiada berguna tiada berarti Merdeka ini telah kau hancurkan Dengan sejuta sifat burukmu Yang menghancurkan persatuan dan kesatuan Benar-benar tidak berbudi Mereka… Pahlawan kita Telah gugur demi kita Demi kita yang merdeka Indonesia telah merdeka
NIKMAT Karya : Cacha Kelas : 4 Magellan
Gemercik air hujan Membuat hatiku bersyukur Kutunggu selama berhari-hari Dan akhirnya turun Terima kasih ya Allah yang telah menurunkan hujan Yang bermanfaat bagi manusia Sinar matahari Kau bersinar terang Kau bercahaya Kau berguna sekali bagi kehidupan manusia Terima kasih ya Allah Yang telah menciptakan matahari Tetapi mengapa Mengapa segolongan manusia yang ada tidak bersyukur Menebang pohon sembarangan Membuang sampah sembarangan Penggunaan rokok di mana-mana Yang menyebabkan polusi Semuanya penyebab bumi hancur Mungkin sekarang tidak Nanti… Nanti di masa depan Jika bumi ini hancur Di mana tempat tinggal manusia? Di mana? Tolong! Tolong! Jagalah lingkungan yang ada di sekitarmu!
|
| Last Updated on Friday, 08 February 2013 07:35 |







