Jenjang pendidikan formal di Indonesia dimulai pada Sekolah Dasar (SD) atau sederajat. Maka bisa dibilang gerbang bagi anak untuk memulai dunia pendidikan yang baru ini, tentu diawali saat anak duduk di kelas 1. Ditingkat inilah, ibaratnya, anak akan menjalani fase penyesuaian metode pendidikan, dari gaya bermain saat di TK (sederajat) menjadi gaya belajar yang terstruktur oleh kurikulum.
Risnowati SPd, guru SD Negeri Lawang 3, ternyata punya motivasi kuat untuk mengajar siswa kelas 1 SD. Selama 33 tahun berkarir sebagai guru, sejak sekolah ini dulunya bernama SD Negeri Wirajaya, Risnowati lebih mantap menjadi guru kelas 1. Menurutnya, di kelas 1 inilah perlu sekali ditanamkan kedisiplinan agar nantinya saat anak naik ke jenjang lebih tinggi, kedisipinan itu sudah dapat tumbuh dengan sendirinya.“Ya pernah juga pegang kelas 5, tetapi saya terdorong untuk menjadi guru kelas 1. Saya termotivasi untuk menanamkan kedisiplinan bagi anak pada usia mereka yang masih dini,” terang Risnowati yang mengawali karir sebagai guru sukwan ini.
Di lingkungan sekolah, Risnowati memang dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Sejak menjadi guru sukwan hingga diangkat sebagai PNS berlanjut hingga pengabdiannya hari ini, dua faktor itu tetap konsisten ditanamkan pada anak didiknya. Tidak jarang, banyak guru yang kurang sepaham dengan penerapan kedisiplinan ini, namun Risnowati tetap kekeuh pada prinsipnya.
“Saya tidak terlalu peduli orang lain mengatakan apa soal prinsip saya menanamkan kedisiplinan bagi anak ini. Toh semua ini saya lakukan demi keberhasilan dan prestasi siswa dalam menempuh pendidikan,” tegasnya.
Penerapan disiplin ala Risnowati pada anak didiknya nampak pada beberapa kegiatan yang dirumuskannya. Seperti, siswa dibiasakan datang ke sekolah tanpa boleh membawa uang, kecuali pada hari Jumat untuk amal sukarela dengan tujuan melatih siswa untuk beramal. Sebagai gantinya, siswa dianjurkan membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, sehingga siswa tidak jajan saat di sekolah.
“Sekolah juga menerbitkan buku penghubung untuk setiap siswa agar bisa memberikan informasi timbal balik antara sekolah dan orang tua. Penerapan kedisiplinan untuk anak SD memang tidak semudah yang diharapkan, tetapi setiap hambatan dan rintangan yang ada bisa sebagai cambuk untuk meraih suatu keberhasilan,” terang Risnowati yang lulus Sertifikasi Guru tahap II ini.
Meski sangat tegas dalam menerapkan disiplin, namun Risnowati tidak pernah menerapkan bentuk hukuman atau penanganan secara fisik. Adanya tindak indispliner dari siswa, lebih cenderung diselesaikan dengan pemberian tugas. Menurutnya, dengan pendekatan yang benar, hukuman seperti ini bisa diterima oleh siswa dengan menyenangkan tanpa merasa terbebani oleh tugas yang diberikan.
Keteguhan Risnowati pada penerapan disiplin dalam mendidik ini, ternyata mendapat dukungan besar dari kepala sekolah dan juga orangtua siswa. Banyak orangtua yang mengaku senang dan mulai sadar dengan manfaat besar penerapan kedisiplinan ini. Banyak murid asuhan Risnowati ini memiliki prestasi membanggakan dan terkenal karena prestasi dan kepintarannya.
Salah satu dari prestasi membanggakan itu, siswa SD Negeri Lawang 3 dikenal dengan tulisannya yang rapi dan bagus. Ini bisa dicapai karena sejak awal sekolah ini sudah menerapkan metode pembelajaran cara menulis dengan rapi. Misalnya, buku tulis kotak diberi garis tepi dan tutup dengan tulisan tegak bersambung, serta guru lebih banyak memberikan pekerjaan rumah (PR) menulis bagi anak di rumah. Dengan cara ini, orangtua di rumah juga bisa membantu dan anak untuk memaksimalkan belajar menulis.
“Kalau model seperti ini dilakukan terus menerus, anak dengan sendirinya akan terbiasa dengan tulisan yang benar, rapi dan bagus,” terang Risnowati
Motivasi lain beliau pegang kelas satu yaitu ia lebih senang membuat alat peraga sehingga anak-anak lebih mantap untuk masuk sekolah, alat peraga yang mudah teringat melekat pada anak. memang terlihat pada ruangan kelas satu dipenuhi bermacam-macam alat peraga hasil karya idenya dan alat tersebut selalu berubah sesuai tema sehingga siwa merasa nyaman, betah di kelas.
Dikatakan Risnowati, konsekuensi sebagai guru kelas I harus benar-benar terjun ke dunia anak serta selalu kreatif dan inovatif. Termasuk di kelas I saat menjelang ulangan atau ujian selalu dibagikan bermacam-macam bentuk bang soal dari sekolah untuk dipelajari di rumah dengan dibantu orang tua. Siswa juga mulai dilatih kegiatan Pramuka Siaga dengan permainan-permainan supaya anak-anak tidak jenuh.
“Saat di tengah liburan anak-anak diberi tugas membuat kliping agar tidak ada waktu terbuang sia-sia yang tidak bermanfaat”, pungkas Risnowati yang akan memasuki pensiun pada 2009 mendatang.



setelah saya membaca pernyataan di atas saya setuju banget dengan ibu risnowati...mendidik anak dari sd (kelas 1 sd) agar bisa menjadi bekal ke depannya nanti, dan di usia seperti ini anak masi bisa menangkap tanpa pengaruh apapun, ini kan yang di sebut golden age..makanya saya ingin banget ke PGSD
Tapi sistem pendidikan sekarang sudah beda..anak2 yang dulunya di kelas 1 SD kini kan berpindah kaan ke TK kan karena anak kelas 1 skarang itu usianya7 tahun...
ibu saya minta saran apa saya harus tetep masuk PGSD or PGTK, walopun saya cenderung ke PGSD
terimakasih sebelumnya..di tunggu balesanya